Melihat para siswa-siswi belajar mengaji dan pelajaran umum dengan beralaskan tanah bahkan buku pun harus bergantian satu sama lain, tentu menjadi pertanyaan besar, apakah sudah tidak ada lagi kepedulian terhadap sesama? atau kami peduli namun kami pun hidup pas-pasan!
Setelah mengamati selama 2 hari, akhirnya diputuskan untuk segera menginventarisir segala jenis kebutuhan agar kegiatan belajar serta mengajar menjadi sedikit lebih baik. Meja belajar, papan tulis, buku tulis, alat tulis dan buku bacaan yang ditambah, itu saja ternyata yang mereka minta. bahkan untuk sarana komputer pun mereka tidak pernah membayangkan apalagi terlintas dalam benak mereka. Uniknya di 2011 yang notabene sudah jaman digital, ternyata sekolah non formal seperti ini masih menerima bayaran berupa pisang, ubi, kadang beras meskipun lebih banyak yg gratis karena ketiadaan.
Kembali ke Jakarta di hari ke 3, data pun lansung diolah. Bentuk sumbangan, siapa yang menyumbang pun terus dicari, Alhamdulillah rejeki yang dikumpulkan tidak mengalami kendala yang berarti, uang sejumlah 5 (lima) juta rupiah mengalir , perlengkapan sholat dan buku agama Islam berdatangan dari berbagai donatur.
Setelah mengadakan komunikasi dengan pihak pendidikan tersebut kami sepakat bahwa bilangan angka rupiah tadi bisa dijadikan meja, papan tulis, bangku serta rak perpustakaan. Hasilnya 2 minggu setelah itu suasana riang anak-anak kecil serta orang dewasa yang belajar pun semakin indah di dengar. Rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak henti"nya mereka panjatkan.
Semoga Semarang jadi permulaan yang baik untuk melanjukan misi Pendidikan layak Anak Indonesia di kemudian hari.
Berikut adalah beberapa gambar sederhana yang diambil dari lokasi di semarang :
![]() |
| Meja Belajar Lesehan |
![]() |
| Meja Peralatan KBM |
![]() |
| Beralaskan Tanah dan tembikar |
![]() |
| Para Pelajar Cilik |
![]() |
| Bangunan Sekolah I |
![]() |
| Bangunan Sekolah II |
![]() |
| Ruang Kelas |
Wassalam,
Bang Gembul

.jpg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar